Update Harga Solar Non-Subsidi Naik Hingga 70%, SPBU Mulai Sepi

Update Harga Solar Non-Subsidi Naik Hingga 70%, SPBU Mulai Sepi

Kingspector — Dalam beberapa hari terakhir, dunia transportasi tanah air khususnya pengguna kendaraan diesel dihebohkan oleh kenaikan harga solar non-subsidi yang sangat drastis. Lonjakan ini terjadi begitu cepat dan di luar ekspektasi banyak orang.

Bukan hanya membuat para konsumen di rumah meremas kening, tetapi juga berdampak langsung pada lalu lintas kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

CEK HARGA BIAYA INSPEKSI MOBIL BEKAS DI SINI

 

Lonjakan Harga yang Membuat Mata Berkedip

Perubahan harga bahan bakar memang biasa terjadi, tapi yang terjadi pada pertengahan April 2026 ini terbilang istimewa—dalam artian tidak biasa dan mengejutkan. Harga sejumlah varian solar non-subsidi melambung tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Salah satu konsumen yang merasakan langsung dampaknya adalah Zaki, seorang pengguna setia mobil diesel.

Ditemui di salah satu SPBU di kawasan Lenteng Agung, Zaki mengaku hampir tidak percaya dengan perubahan angka di mesin pompa BBM. Dalam satu hari yang sama, ia harus mengisi tangki dua kali dan merasakan perbedaan harga yang sangat kontras.

“Dari yang biasanya sekitar Rp14 ribuan, sekarang saya membayar Rp25 ribuan per liternya. Kenaikannya hampir 70 persen, ini benar-benar di luar dugaan,” ungkap Zaki dengan nada masih terkejut.

Bayangkan, dalam hitungan jam, biaya operasional harian kendaraan diesel bisa membengkak hingga dua kali lipat. Ini bukan soal “sedikit lebih mahal”, tapi sebuah lompatan harga yang signifikan.

Baca juga: Transparansi Setiap Laporan Inspeksi Mobil Kingspector Demi Memudahkan Pengambilan Keputusan Anda

Transparansi Setiap Laporan Inspeksi Mobil Kingspector Demi Memudahkan Pengambilan Keputusan Anda

 

Perbandingan Harga: Sebelum dan Sesudah (Tabel Analisis)

Agar lebih jelas, mari kita lihat perbandingan harga sebelum dan sesudah kenaikan untuk berbagai jenis solar non-subsidi:

Jenis Solar Non-Subsidi Harga Sebelum (per liter) Harga Setelah Kenaikan (per liter) Kenaikan (Nominal) Persentase Kenaikan
Pertamina Dexlite Rp14.200 Rp23.600 Rp9.400 66,2%
Pertamina Dex Rp14.500 Rp23.900 Rp9.400 64,8%
BP Ultimate Diesel Rp14.060 Rp25.560 Rp11.500 81,8%

Data di atas menunjukkan bahwa kenaikan tertinggi dialami oleh produk swasta, BP Ultimate Diesel, yang hampir menyentuh kenaikan 82 persen. Sementara itu, produk Pertamina juga tidak kalah pahit dengan kenaikan di atas 64 persen. Selisih harga yang awalnya hanya beberapa ratus rupiah antar merek, kini menjadi lebih terlihat.

 

 

Reaksi Konsumen Antara Keterpaksaan dan Harapan

Menarik untuk menyimak bagaimana para konsumen mengambil sikap. Di tengah kenaikan yang begitu tajam, tidak banyak opsi yang bisa dilakukan dalam jangka pendek. Seperti yang diutarakan Zaki, menjual kendaraan karena harga BBM naik bukanlah solusi yang masuk akal bagi sebagian besar orang.

“Mau enggak mau ya tetap harus pakai diesel. Mobil ini kan kebutuhan, bukan sekadar gaya hidup. Jual mobil? Enggak mungkinlah,” tegasnya.

Lalu, bagaimana dengan opsi beralih ke kendaraan listrik (EV)? Zaki mengaku belum melirik ke sana. Biaya konversi atau pembelian mobil listrik yang masih tinggi, ditambah dengan infrastruktur pengisian daya yang belum merata, membuatnya memilih untuk bertahan dengan diesel dulu.

Harapan terbesar para konsumen saat ini adalah agar kenaikan ini tidak berlangsung lama. “Saya berharap pemerintah bisa mendengar. Mudah-mudahan ini sementara saja dan nanti harganya bisa turun lagi,” pungkas Zaki.

Ini adalah gambaran klasik dari konsumen yang terjepit: mereka tidak punya pilihan selain mengikuti arus, sambil berharap adanya angin segar dari kebijakan pemerintah.

Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri Mobil Bekas Tabrak Lari dari Sudut Pandang Kingspector

Mengenal Ciri-Ciri Mobil Bekas Tabrak Lari dari Sudut Pandang Kingspector

 

Dampak ke SPBU: Mulai Terlihat Sepi Pengunjung

Cerita tidak berhenti di mulut pompa. Dampak dari lonjakan harga ini mulai menggerus jumlah konsumen yang datang ke SPBU. Berdasarkan pantauan langsung di beberapa SPBU Pertamina di kawasan Lenteng Agung dan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, intensitas kendaraan yang mengisi BBM terlihat menurun drastis.

Para petugas SPBU di lokasi tersebut mengonfirmasi bahwa jumlah konsumen yang datang setelah kenaikan harga jauh lebih sedikit dibandingkan hari-hari biasanya. Ini adalah indikasi awal bahwa masyarakat mulai melakukan penyesuaian perilaku.

Apa saja bentuk penyesuaian yang mungkin terjadi?

  1. Mengurangi frekuensi perjalanan: Masyarakat mulai lebih selektif dalam menggunakan kendaraan pribadi.

  2. Mencari SPBU dengan harga termurah: Meskipun selisihnya tidak besar, konsumen akan cenderung mencari lokasi dengan harga paling kompetitif.

  3. Menunda pengisian penuh: Beberapa konsumen mungkin hanya mengisi BBM secukupnya untuk kebutuhan darurat.

Kesunyian di SPBU ini menjadi pemandangan baru yang cukup kontras dengan antrean panjang yang biasanya terjadi saat menjelang kenaikan harga BBM di masa lalu.

 

 

Analisis: Mengapa Kenaikan Ini Begitu Terasa?

Ada beberapa faktor yang membuat kenaikan kali ini terasa sangat berat dibanding kenaikan-kenaikan sebelumnya:

  1. Kecepatan dan Besaran Kenaikan: Kenaikan yang terjadi dalam hitungan hari dengan persentase di atas 60% adalah sebuah anomali. Konsumen tidak punya waktu untuk beradaptasi secara perlahan.

  2. Kondisi Ekonomi Saat Ini: Daya beli masyarakat sedang berada dalam tekanan. Kenaikan harga logistik ini akan memicu efek domino ke sektor lain seperti harga barang konsumsi dan jasa transportasi.

  3. Minimnya Pilihan Transportasi Publik: Di banyak daerah, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi masih sangat tinggi. Beralih ke transportasi umum bukanlah solusi instan karena keterbatasan rute dan jadwal.

 

Kesimpulan: Antara Realitas dan Harapan

Kenaikan harga solar non-subsidi yang mencapai hampir 70 persen lebih dari sekadar angka di SPBU. Ini adalah pukulan telak bagi pengguna kendaraan diesel, mulai dari pengusaha logistik hingga pengguna pribadi seperti Zaki. Kejutan, keterpaksaan, dan harapan akan penurunan harga menjadi perasaan yang dominan saat ini.

SPBU yang mulai sepi adalah sebuah sinyal. Konsumen sedang “voting with their feet”—mereka memilih untuk mengurangi konsumsi daripada harus membayar dengan harga yang dirasa tidak wajar.

Ke depannya, semua mata akan tertuju pada pemerintah dan PT Pertamina, apakah akan ada langkah koreksi atau justru kebijakan lanjutan yang memperkuat harga baru ini.

Satu hal yang pasti, hingga ada perubahan kebijakan, para pengguna diesel harus merapatkan ikat pinggang dan mencari cara paling efisien untuk tetap bisa beraktivitas. Harapan agar kenaikan ini tidak berlangsung lama adalah doa bersama yang menggantung di setiap antrean pompa bensin yang mulai sepi.


Kingspector merupakan penyedia layanan jasa inspeksi mobil bekas yang terkenal dengan pelayanan profesional dan independen di Indonesia.

Cakupan lokasi inspeksi kami tersedia di:

Alamat Kantor Pusat: Jl. Banowati No.646 Dirgantara, RT.7/RW.3, Halim Perdanakusuma, Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13610 | Google Maps

Jam Buka: Setiap hari, Jam 9.00 AM – 9.00 PM (pagi – malam)

Telepon/ WA: +6282223247399